Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Internet Indonesia Paling Lambat Nomor Dua dan Internet Korea Paling Cepat Nomor Satu

 
 
Penyedia layanan cloud global Akamai Technologies Inc telah merilis laporan State of the Internet edisi terbaru untuk kuartal III 2013. Laporan terseb...ut berisi data-data mengenai kecepatan koneksi internet, jumlah traffic, adopsi broadband, dan serangan cyber dari hasil survei 122 negara di seluruh dunia yang tergabung dalam Akamai Intelligent Platform.

State of the Internet kali ini melaporkan bahwa angka kecepatan koneksi internet dunia telah meningkat sebesar 10 persen dibanding kuartal lalu menjadi 3,6 megabit per detik (Mbps). Jumlah yang merupakan rata-rata global itu masih lebih tinggi dibandingkan kecepatan koneksi internet Indonesia yang pada kuartal ini tercatat sebesar 1,5 Mbps.

Angka tersebut mendudukkan Indonesia di posisi kedua terbawah di antara negara-negara Asia Pasifik, dalam hal kecepatan koneksi internet rata-rata. Di wilayah ini, Indonesia hanya lebih tinggi dari India yang mencatat angka 1,4 Mbps.

Negara-negara lain yang termasuk dalam wilayah Asia Pasifik adalah Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, China, Selandia Baru, Australia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, dan Korea Selatan. Koneksi tercepat dipegang oleh Korea Selatan dengan angka rata-rata 22,1 Mbps.

Negeri Ginseng itu sekaligus menyabet predikat sebagai negara dengan koneksi terkencang di dunia untuk kali kesekian. Korea Selatan diikuti Jepang dan Hongkong yang masing-masing mencatat kecepatan koneksi internet rata-rata sebesar 13,3 Mbps dan 12,5 Mbps.

Korea Selatan, Jepang, dan Hongkong secara berurutan duduk di ranking pertama, kedua, dan ketiga dalam tangga kecepatan internet rata-rata terkencang di seluruh dunia. Adapun Indonesia muncul di posisi ke-115.

Dilihat dari segi adopsi broadband, sebanyak 70 persen pengguna internet Korea Selatan menikmati kecepatan di atas 10 Mbps, sementara Indonesia hanya 0,1 persen. Jika standar tersebut diturunkan menjadi 4 Mbps, maka sebesar 93 persen koneksi internet di Korea Selatan sudah melewati angka tersebut, berbanding 1,8 persen di Indonesia.

Temuan lain yang turut digarisbawahi dalam laporan State of the Internet kuartal III 2013 Akamai adalah turunnya jumlah serangan cyber yang berasal dari Indonesia, setelah sempat naik drastis pada kuartal sebelumnya.

Predikat negara asal serangan cyber terbanyak kembali dipegang oleh China yang menjadi sumber 35 persen serangan. Urutan kedua dan ketiga ditempati Indonesia dan Amerika Serikat yang masing-masing menjadi sumber dari 20 persen dan 11 persen serangan cyber.

VIA KOMPAS.TEKNO
Foto: Lebih Kaya dari Indonesia, Korsel Justru Lebih Berhemat :

Pemerintah Indonesia masih harus banyak belajar dari Korea Selatan (Korsel) di segala hal, terutama teknologi dan penggunaan belanja pemerintah. Negeri Ginseng tersebut juga sukses menerapkan reformasi birokrasi di negaranya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Azwar Abubakar usai menerima kunjungan kehormatan dari Parlemen Korsel yang didampingi pejabat Kedubes Korsel tanpa sungkan mengakui bahwa Indonesia memang harus belajar banyak pada negara tersebut.

"Korea sangat hebat, karena mereka bisa melaksanakan reformasi birokrasi yang sangat luar biasa. Kita harus meniru Korea terutama terkait Informasi Teknologi (IT)," ujar Azwar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/1/2014).

Azwar menjelaskan, Korea juga sukses melakukan penghematan anggaran dari sisi fiskal. Padahal, kekayaan Negeri K-Pop ini jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.

"Meski Korsel sudah lebih kaya dibanding Indonesia, tapi mereka terus melakukan penghematan terutama belanja pemerintah dan jumlah pegawai. Perubahan ini juga harus dilakukan di Indonesia," tegas Azwar.

Dalam kunjungannya kali ini, kedua negara memutuskan melakukan tindak lanjut finalisasi proposal kerjasama antara Kementerian PAN-RB, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dengan KOIC-Korea.

Kementerian dan Lembaga ini sepakat menggarap proyek Consolidating Indonesian E-gov toward a Global and Connect World (CIE2G & CW). Proyek yang dirancang mulai 2015 hingga 2019 itu akan didanai dari bantuan berupa hibah sebesar US$ 10 juta atau sekitar Rp 100 miliar.

"Proyek ini untuk mendukung tranparansi, efisiensi dan akuntabilitas pemerintahan, meningkatakan kapasitas pemerintahan Indonesia di bidang e-Govt (electronic government) dan mempererat hubungan antara pemerintah Indonesia dan Korea," ujar Azwar.

Proyek kerjasama ini akan diprioritaskan pada upaya meningkatkan produktivitas dan keterampilan bagi pegawai-pegawai di pemerintahan, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Delegasi Parlemen Korea, Yoo Ki June mengatakan, pihaknya akan memberikan perhatian penuh kepada Indonesia dalam segala bidang, termasuk pelaksanaan reformasi birokrasi.

"KOIKA sedang membahas serius untuk reformasi birokrasi pemerintah Indonesia melalui pembangunan e-govt untuk periode tahun 2015-2019," kata dia.

VIA LIPUTAN6

Lebih Kaya dari Indonesia, Korsel Justru Lebih Berhemat
Pemerintah Indonesia masih harus banyak belajar dari Korea Selatan (Korsel) di segala hal, terutama teknologi dan penggunaan belanja pemerintah. Negeri Ginseng tersebut juga sukses ...menerapkan reformasi birokrasi di negaranya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Azwar Abubakar usai menerima kunjungan kehormatan dari Parlemen Korsel yang didampingi pejabat Kedubes Korsel tanpa sungkan mengakui bahwa Indonesia memang harus belajar banyak pada negara tersebut.

"Korea sangat hebat, karena mereka bisa melaksanakan reformasi birokrasi yang sangat luar biasa. Kita harus meniru Korea terutama terkait Informasi Teknologi (IT)," ujar Azwar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/1/2014).

Azwar menjelaskan, Korea juga sukses melakukan penghematan anggaran dari sisi fiskal. Padahal, kekayaan Negeri K-Pop ini jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.

"Meski Korsel sudah lebih kaya dibanding Indonesia, tapi mereka terus melakukan penghematan terutama belanja pemerintah dan jumlah pegawai. Perubahan ini juga harus dilakukan di Indonesia," tegas Azwar.

Dalam kunjungannya kali ini, kedua negara memutuskan melakukan tindak lanjut finalisasi proposal kerjasama antara Kementerian PAN-RB, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dengan KOIC-Korea.

Kementerian dan Lembaga ini sepakat menggarap proyek Consolidating Indonesian E-gov toward a Global and Connect World (CIE2G & CW). Proyek yang dirancang mulai 2015 hingga 2019 itu akan didanai dari bantuan berupa hibah sebesar US$ 10 juta atau sekitar Rp 100 miliar.

"Proyek ini untuk mendukung tranparansi, efisiensi dan akuntabilitas pemerintahan, meningkatakan kapasitas pemerintahan Indonesia di bidang e-Govt (electronic government) dan mempererat hubungan antara pemerintah Indonesia dan Korea," ujar Azwar.

Proyek kerjasama ini akan diprioritaskan pada upaya meningkatkan produktivitas dan keterampilan bagi pegawai-pegawai di pemerintahan, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Delegasi Parlemen Korea, Yoo Ki June mengatakan, pihaknya akan memberikan perhatian penuh kepada Indonesia dalam segala bidang, termasuk pelaksanaan reformasi birokrasi.

"KOIKA sedang membahas serius untuk reformasi birokrasi pemerintah Indonesia melalui pembangunan e-govt untuk periode tahun 2015-2019," kata dia.

VIA LIPUTAN6